Selasa, 21 Juli 2009

Tamansari: Surga Dunia Para Raja


Pada satu senja, dalam perjalanan tanpa tujuan, saya bermotor kearah selatan. Melewati perempatan Benteng Vredenburgh, saya terus ke selatan hingga melewati pertigaan sisi kanan alun-alun utara Kraton Yogyakarta, lalu berbelok ke kanan sampai di Pasar burung Ngasem. Memang terlalu percaya diri untuk melakukan perjalanan sore itu tanpa teman, peta, ataupun pengalaman sebelumnya, tapi keinginan untuk terus melaju serasa tak terbendung. Arah selatan pasar Ngasem, terdapat papan nama ‘Tamansari’ di sisi kanan tembok panjang mirip benteng. Saya tertarik untuk masuk dan melihat-lihat tempat yang merupakan salah satu kawasan wisata budaya Kota Yogyakarta ini.



Tamansari merupakan pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya berupa taman kerajaan. Kesultanan Yogyakata memiliki beberapa pesanggrahan lain seperti Warungboto, Manukberi, Ambarbinangun dan Ambarukmo. Pesanggrahan tersebut berfungsi sebagai tempat tetirah, bersemadi, dan beristirahat Sultan dan keluarga. Pada jaman penjajahan, beberapa tempat bersejarah tersebut termasuk Tamansari berfungsi sebagai tempat pertahanan.
Tamansari berlokasi sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Dibangun oleh arsitek berkebangsaan Portugis, sehingga beberapa ornamen bangunannya memiliki corak atau gaya Eropa. Meski demikian, beberapa symbol Jawa dan Islam tetap dipertahankan. Taman ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada akhir abad XVII M.
Beberapa bagian Tamansari beserta fungsi-fungsinya sebagai berikut.

1)Bagian Sakral
Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.
2)Bagian Kolam Pemandian
Bagian ini terdiri dari tiga kolam yang dipisahkan oleh bangunan bertingkat. Dua diantaranya berada disebelah kanan bangunan yang dahulu digunakan oleh para selir dan putra-putri raja. Sedangkan satu kolam terletak disebelah kiri dahulu digunakan oleh raja dan salah satu selir yang terpilih. Bangunan bertingkat yang memisahkan keduanya terdiri dari dua tingkat. Di tingkat dua, terdapat jendela yang dahulu digunakan raja untuk mengamati para selir dan memilih salah satunya untuk mandi bersama beliau di kolam khusus. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang yang khas. Bangunan kolam ini di kelilingi pot-pot besar
3)Bagian Pulau Kenanga
Bagian ini terdiri dari Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gemuling, dan lorong-lorong bawah tanah.
Banguan yang disebut Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti merupakan satu bangunan tinggi yang digunakan sebagai tempat beristirahat, sekaligus sebagai tempat pengintaian karena letaknya agak menjorok ke atas. Dahulu bangunan dikelilingi danau buatan yang difungsikan sebagai tempat bertahan dan mengatur strategi.
Sumur Gemuling berada di bawah tanah yang berbentuk melingkar seperti sebuah sumur. Terdapat beberapa ruangan yang dahulu berfungsi sebagai sebagai tempat sholat. Menurut keterangan pemandu wisata, bangunan ini dibuat melingkar agar suara imam sholat dapat terdengar sebagai pengganti pengeras suara. Ditengah-tengah ruangan terdapat lima buah tangga sebagai simbol lima rukun Islam.
Lorong-lorong konon berfungsi sebagai jalan rahasia yang menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta. Bahkan ada sumber yang menyebutkan bahwa lorong ini tembus ke pantai selatan sekaligus sebagai jalan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Yang pasti, berdasarkan pemandu wisata yang saya sewa, lorong tersebut digunakan sebagai tempat pertahan keluarga kerajaan jika terjadi serangan mendadak.

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang Blog ini

Blog ini lahir karena motivasi penulis untuk mengabadikan beragam dokumentasi pribadi, baik berupa tulisan maupun gambar. Pengalaman pendidikan penulis di bidang bahasa dan budaya memberikan warna tersendiri dalam pemilihan tema, koleksi tautan, dan topikalisasi tulisan. Selamat Membaca dan Turut Memberi Warna

  © Blogger template Starry by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP