Senin, 20 Juli 2009

Sketsa Sejarah Islamisasi Sains

Wacana integrasi ilmu dan agama atau islamisasi sains sesungguhnya bukan konsep baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Istilah ini telah dikembangkan oleh para pemikir Islam yang secara geografis bersinggungan langsung dengan modernisasi sebagai produk ilmu pengetahuan barat, sehingga mereka melihat dan merasakan ketimpangan ilmu pengetahuan antara Timur dan Barat. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pada kurun waktu terakhir pasca berkembangnya wacana The Clash of Civilization–nya Samuel Huntington, istilah Timur dan Barat mengalami penyempitan makna, yaitu Kristen/Yahudi dan Islam (Mujani, dkk. 2005: 65). Integrasi ilmu dan agama mulai diwacanakan oleh para intelektual muslim ketika mereka menyadari bahwa revitalisasi peradaban islam merupakan suatu kebutuhan. Sejak kelahirannya, ide islamisasi sains tidak sedikit menuai kontroversi mulai dari prosedur implementasi, visi-misi, bentuk realisasi, dll. Di satu sisi, proyek islamisasi sains memang visioner dan utopis. Tapi, di sisi lain, perlu pemahaman, telaah, dan kajian ulang agar proyek ini menghasilkan maha karya yang benar-benar orisinil dan efektif.



Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Partanto dan Al-Barri memaknai istilah integrasi, ilmu dan agama secara parsial sebagai berikut. Integrasi berarti penggabungan, pemaduan atau penyatuan menjadi satu kesatuan yang utuh. Ilmu berarti pengetahuan. Agama berarti keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan (1994: 243, 264, 9). Islamisasi berarti usaha mengislamkan dunia dan sains berarti ilmu pengetahuan yang dipakai sebagai kata kolektif untuk menunjukkan bermacam-macam pengetahuan sistematis dan objektif serta dapat diteliti kebenarannya.
Potongan-potongan istilah di atas dapat dipahami bahwa integrasi ilmu dan agama berarti tidak berpandangan dikotomis terhadap ilmu dan agama, karena apabila ditelaah lebih dalam, “ilmu” dan “agama” merupakan entitas yang padu yang tidak dapat dipisahkan (Zainuddin. 2004: 18).
Memadu ilmu dan agama yang juga merupakan proses islamisasi sains secara epistemologis dipahami berbeda oleh beberapa penggagasnya, meski pun secara implisit tetap relevan antara satu dengan yang lainnya.
a. Sayyed Husain Nasser, seorang pemikir Amerika kelahiran Iran memaknai istilah islamisasi sains sebagai upaya menerjemahkan pengetahuan modern ke dalam bahasa yang bisa dipahami masyarakat muslim di mana mereka tinggal.
b. Naquib al-Attas, pemikir muslim Malaysia kelahiran Indonesia berpendapat bahwa Islamisasi sains adalah upaya membebaskan ilmu pengetahuan dari makna, ideologi-ideologi, dan prinsip-prinsip sekuler sehingga tercipta ilmu pengetahuan baru yang sesuai dengna fitrah Islam.
c. Al-Faruqi, tokoh muslim kelahiran Palestina mendefinisikan islamisasi Sains dalam bahasa praktis, yaitu mengislamkan disiplin-disiplin ilmu dengan melakukan kajian-kajian kritis terhadap disiplin-disiplin ilmu tersebut kemudian memadukannya dengan sistem pengetahuan Islam dan menuangkan kembali disiplin ilmu modern yang berwawasan Islam.
d. Sardar mempertegas pengertian Islamisasi sains dengan tidak sekedar memadukan keilmuan Barat dan Islam akan tetapi lebih mengedepankan pengetahuan Islam dan pengetahuan Barat harus direlevansikan dengan pengetahuan Islam (Inovasi ed. 22, 2205: 13).
A.Khudori Sholeh dalam artikelnya yang berjudul Ide-ide tentang Islamisasi Ilmu (Inovasi ed. 22, 2005: 27) merangkum perkembangan ide-ide Islamisasi sains. Gagasan ini pertama kali disampaikan oleh Sayyid Husain Nasser pada tahun 1960-an ketika berbicara tentang dikotomi metodologi ilmu barat dan keislaman yang menurutnya terdapat kesamaan bahkan metodologi ilmu keislaman jauh lebih padu dengan menerapkan metodologi rasional, tekstual dan intuitif. Berbeda dengan ilmu Barat yang hanya memakai metodologi rasional saja. Pada tahun 1977, ide tersebut disempurnakan oleh Sayyid Naquib al-Attas lewat makalah yang berjudul Preliminaty Thought on the Nature of Knowledge and the Definition of Aims of Education yang disampaikan pada konferensi pendidikan Islam Dunia pertama di Makkah. Dalam buku Islam and Secularism (1978), al-Attas menegaskan bahwa proyek Islamisasi sains tidak hanya sebatas mempertemukan khasanah keilmuan Islam dan Barat akan tetapi perlu rekonstruksi ontologis dan epistemologis sebagai ciri sebuah keilmuan lahir. Pada tahun yang sama, gagasan Islamisasi sains dibahas secara lebih mendalam pada konferensi Internasional I di Swiss. Pada tahun 1981, pemikir muslim Amerika kelahiran Palestina, Ismael Raji al-Faruqi mendirikan The Internation of Islamic Thought (IIIT) sebagai pusat pengembangan proyek Islamisasi sains di Washington DC. Tahun 1983, konferensi internasional II di Islamabad, Pakistan menghasilkan beberapa pikiran pokok, yaitu:
a. mensosialisasikan hasil konferensi I dan rumusan yang dihasilkan IIIT tentang solusi atas krisis umat Islam.
b. mengupayakan suatu penelitian untuk mencari penyebab, gejala dan mengevaluasi krisis tersebut.
Tahun 1984, konferensi III di Kualalumpur, Malaysia membahas proyek Islamisasi sains secara teknis. Konferensi ini menghasilkan rencana pengembangan reformasi landasan berpikir umat Islam yang bersifat metodologis serta pengembangn skema Islamisasi masing-masing disiplin ilmu, seperti ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, Hubungan Internasional dan filsafat. Tahun 1987, konferensi IV di Khortum, Sudan mengupas persoalan metodologi sebagai tantangan dan hambatan utama pelaksanaan proyek Islamisasi sains.
Meski demikian, tidak sedikit pemikir muslim yang tidak sepenuhnya sepakat terhadap gagasan integrasi ilmu dan agama. Usep Fakhruddin, cendekiawan muslim Indonesia mengklaim similarisasi atau ayatisasi terhadap produk pengetahuan sebagai salah satu upaya Islamisasi sains merupakan modus operandi dari pembajakan pengetahuan (Inovasi ed. 22, 2205: 19). Secara apriori, ayatisasi hanya akan memberi peluang kepada umat Islam untuk tidak berusaha menemukan inovasi baru. Ketika budaya ini berkembang maka Islam akan tetap menjadi penonton dan tersingkir dari kancah perkembangan ilmu pengetahuan di jagad raya. Oleh karena itu, sebagaimana setiap pengetahuan mempunyai asas atau landasan pemikiran sebagaimana srtuktur ilmu pengetahuan Barat memiliki asas sekulerisme, sisitem kerja Islamisasi sains perlu memerlukan Islamic world view sebagai landasan berpikir.

Sumber Acuan
INOVASI. Edisi 20. 2003. Unit Aktivitas Pers Mahasiswa UIN Malang.
_________ Edisi 22. 2005.Unit Aktivitas Pers Mahasiswa UIN Malang.
Zainuddin dkk. (editor). 2004. Memadu Sains dan Agama. Menuju Universitas Islam Masa Depan. UIN Malang Press: Malang

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang Blog ini

Blog ini lahir karena motivasi penulis untuk mengabadikan beragam dokumentasi pribadi, baik berupa tulisan maupun gambar. Pengalaman pendidikan penulis di bidang bahasa dan budaya memberikan warna tersendiri dalam pemilihan tema, koleksi tautan, dan topikalisasi tulisan. Selamat Membaca dan Turut Memberi Warna

  © Blogger template Starry by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP