Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2009

Candi Penataran


Tidak hanya sekali, saya mengunjungi candi Penataran karena berada dalam satu kota. Beberapa diantaranya untuk keperluan mengantar teman dari luar daerah yang kebetulan berkunjung ke Blitar. Begitupun saat saya mengabadikan baik gambar maupun narasi sejarah peninggalan purbakala ini. Bersama seorang teman dari Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, saya bersemangat menelusuri kompleks candi yang cukup luas tersebut.
Candi Panataran terletak di sebelah utara Blitar, tepatnya di lereng barat-daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter, desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Blitar. Lokasinya berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Blitar ini konon disebut sebagai komplek percandian terluas di Jawa Timur. Tercatat dalam laporan Dinas Purbakala tahu 1914-1915 nomor 2045 dan catatan Verbeek nomor 563.



Candi ini ditemukan pada tahun 1815 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, seorang Letnan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris yang berkuasa di Negara Indonesia. Raffles bersama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengunjungi Candi Penataran sebelumnya mengabadikan hasilnya dalam buku "History of Java". Apa yang dilakukan petinggi Belanda itu diikuti oleh peneliti lain, seperti J.Crawfurd, Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.Hoepermans (1886)
Di pintu utama areal candi, terdapat dua arca yang disebut Dwaraphala atau oleh masyarakat Blitar disebut "Mba Bodo". Terpahat dalam arca tersebut, angka dalam huruf Jawa Kuno : tahun 1242 Saka atau 1320 Masehi. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa pahatan angka tersebut menunjukkan diresmikannya Candi Penataran menjadi kuil negara baru pada jaman Raja Jayanegara dari Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328 Masehi.
Di sebelah timur Arca terdapat sisa-sisa pintu gerbang yang terbuat dari bahan batu bata merah. Di sekitar gerbang terdapat bangunan berbentuk persegi panjang yang disebut Bale Agung yang dahulu berfungsi sebagai tempat pendeta.
Sebuah batu prasasti berdiri kokoh di sebelah selatan bale agung. Tertulis diatasnya maklumat berisi peresmian perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah dengan huruf Jawa Kuno bertahun 1119 Saka atau 1197 Masehi dikeluarkan oleh Raja Srengga dari Kerajaan Kediri.
Komplek Candi Panataran dibangung selama kurang lebih 250 tahun, mulai tahun 1197 pada jaman Kerajaan Kediri hingga tahun 1454 pada jaman Kerajaan Majapahit.
Candi berikutnya adalah Candi Naga yang berukuran 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter. Candi ini dikelilingi atau dililiti sembilan buah naga dan tokoh-tokoh seperti raja.
Dibagian paling belakang berdiri candi terbesar atau candi induk yang terdiri dari tiga teras bersusun dengan tinggi 7,19 meter. Terdapat arca Dwaraphala di sisi kedua tangga.
Setelah menyusuri urutan candi-candi, kami berjalan terus ke arah belakang kompleks. Disana terdapat kolam suci yang dahulu berfungsi sebagai tempat ibadah ritual. Kolam kecil ini hanya berukuran sekitar 2 x 5 meter.

Kolam tersebut merupakan penghujung dari rangkaian peninggalan purbakala di kompleks candi Penataran. Keseluruhan kompleks ini dikelilingi area persawahan dan pemukiman penduduk. Melihat kondisi masyarakat disekitarnya, kami mengasumsikan mereka tidak memiliki pendidikan tentang cagar budaya dan peninggalan purbakala, namun apresiasi dan rasa tanggungjawab akan kelestarian aset budaya ini sangat tinggi, terbukti dengan tetap terawatt dan terjaganya benda-benda purbakala tersebut.

Diambil dari pengamatan pribadi dan beberapa sumber.

Read more...

Museum Afandi: Jejak Kaki Sang Maestro


Menginjakkan kaki di kota yang konon terkenal dengan ikon-ikon budaya, Yogyakarta, menginsipirasikan saya untuk mengunjungi tempat-tempat berkesan. Beruntung saya berkenalan dan kemudian tinggal dengan teman yang juga memiliki hobi traveling. Pada bulan-bulan pertama tinggal dikota ini, kami masih memiliki keterbatasan jarak tempuh karena kendala transportasi. Dan Museum Afandi menjadi tujuan kunjungan kami yang pertama dengan alasan kemudahan transposrtasi.
Museum yang berlokasi di Jalan Raya Yogyakarta-Solo atau Jl. Laksda Adisutjipto 167 Yogyakarta. Mudahnya, museum yang dulu menjadi rumah pribadi Afandi ini berada tepat di tepi barat Sungai Gajah Wong, berjarak sekitar 500M sebelum Plasa Ambarukmo dari arah pasar Gejayan. Dengan menggunakan bus umum jalur 7 dari arah jalan Gejayan, kami sampai dalam 7 menit. Sekilas dari luar, tidak terlihat tempat istimewa ini, karena banyak beberapa pohon besar di kompleks museum, hanya papan nama tidak terlalu besar terpampang di pintu gerbang. Namun, jika masuk lebih dalam, baru terlihat keunikan lokasi yang dirancang sendiri oleh Afandi ini.



Kompleks museum terdiri dari 3 buah galeri. Pembelian tiket sekaligus tempat maha karya Afandi dipajang berada di galeri I. Kami sebagai pengunjung domestik dikenai biaya masuk 20.000 belum termasuk biaya kamera. Pada tahun 1962, galeri ini dibuka oleh affandi dan diresmikan tahun 1974. Di ruangan yang cukup lebar ini, sejumlah lukisan Affandi dari awal berkarya hingga masa akhir hidupnya serta beberapa barang berharga miliknya seperti mobil Colt Gallan tahun 1976 berwarna kuning kehijauan yang telah dimodifikasi serupa bentuk ikan, sepeda onthel kuno, reproduksi patung berbentuk dirinya dan putrinya yang bernama Kartika. Lukisan Afandi lebih banyak berbentuk sketsa-sketsa menyerupai lukisan belum jadi, hanya beberapa diantaranya yang berbentuk lukisan rapi yang kebanyakan menggambarkan diri dan anak-istrinya. Karena minimnya pengetahuan seni lukis, kami hanya bisa menikmati, belum mampu mengamati termasuk aliran seni lukis yang diacu Afandi, pola percampuran warna dan sebagainya.
Keluar dari Galeri I, kami menuju Galeri II. Diantara kedua galeri tersebut, terdapat taman kecil dimana Afandi dan istrinya dimakamkan. Galeri II yang diresmikan tahun 1988 tersebut memuat sejumlah lukisan para pelukis. Di lantai II, terdapat tangga menuju ruangan terbuka mirip menara. Disana kami bisa melihat arus deras sungai Gajah Wong dan keseluruhan kompleks musem.
Tak jauh dari Galeri II, berdiri Galeri III berbentuk garis melengkung dengan atap menyerupai pelepah daun pisang. Ruangan ini bersifat multifungsi karena lantai I dapat difungsikan sebagai ruang pameran dan lokasi Sanggar Gajah Wong. Biasanya anak-anak belajar melukis di ruangan ini. Di lantai II terdapat sebuah ruangan luas untuk perawatan lukisan. Di lantai dasar atau mirip lantai bawah tanah karena tempatnya menjorok di bawah difungsikan sebagai tempat penyimpanan koleksi lukisan.
Keluar dari ketiga galeri, kami menjumpai sebuah bangunan yang unik karena berbentuk rumah panggung, atapnya berbahan sirap dan berbentuk pelepah daun pisang. Di lantai I, ada Kafe Loteng dimana kami bisa menukarkan tiket dengan minuman ringan, sedangkan lantai II dahulu digunakan sebagai kamar pribadi Affandi. Lokasi ini dibuat nyaman dengan seperangkat meja-kursi taman sekaligus rerimbunan bunga dan pepohonan yang teduh. Dari kursi tempat kami bersantai, kami bisa melihat kolam renang melingkar yang dibangun Afandi untuk anaknya. Tempatnya agak menjorok ke bawah sehingga bentuk dan keunikan kolam terlihat jelas.
Keunikan kompleks museum Afandi dilengkapi dengan sebuah bangunan kecil berbentuk gerobak yang saat ini berfungsi sebagai mushola. Dahulu semasa hidupnya, ruangan ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan Maryati, istri Affandi.
Sayang sekali, kami tidak sempat mengabadikan beberapa sudut yang berkesan, hanya beberapa dokumentasi berikut.

Read more...

Di Rimba Raya Grojogan Sewu


Di satu akhir pekan, saya dan dua sahabat karib memutuskan untuk mengunjungi Solo, satu daerah yang juga kaya akan keragaman peninggalan budaya. Namun, karena bosan melihat barang-barang kuno, kami berinisiatif untuk berwisata alam. Air Terjun Grojogan Sewu menjadi pilihannya.
Air terjun yang sedianya kami kunjungi terletak di kaki Gunung Sewu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Cukup jauh dari tempat kami menginap di belakang kampus Universitas Sebelas Maret Solo. Kami gunakan bis besar jurusan Solo-Tawangmangu dari Terminal Tirtonadi Solo dengan tarif sekitar Rp. 7.000. Perjalanan dari Kota Solo sampai di lokasi bisa ditempuh selama sekitar satu setengah hingga dua jam.



Karena kurangnya pengalaman, sampai terminal Tawangmangu kami gunakan angkutan umum menuju lokasi, padahal jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu kilometer. Dengan tiket seharga Rp. 6.000, kami mulai memasuki area berupa hutan yang memiliki luas 20 Ha. Obyek wisata ini sebenarnya dikelola oleh lembaga Konservasi SDA Bogor.
Meski untuk menuju ke area air terjun, kami harus menuruni jalan setapak berupa ratusan anak tangga curam dan agak licin, namun tidak terasa melelahkan karena pepohonan yang menaungi kami. Rerimbunan pohon itu menciptakan nuansa teduh dan sejuk, ditambahkan dengan suara derasnya air terjun. Tinggi Air terjun Grojogan Sewu mencapai sekitar 81 meter. Curahannya tidak berpusat pada satu titik, namun menyebar ke berbagai penjuru, oleh karenanya air terjun ini dinamakan Grojogan Sewu yang berarti air terjun seribu.
Semakin dekat dengan air terjun, kami dikejutkan dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Awalnya kera-kera itu cukup membuat kami takut, namun untungnya mereka tidak terlalu buas, hanya meminta makanan ringan.
Radius beberapa meter dari lokasi air terjun, semakin terasa kesejukannya. Karena kepalang basah dengan percikan dari curahan air terjun, kami putuskan untuk terus mendekat dengan melewati bongkahan batu-batu besar yang cukup licin. Air di sekitar air terjun terasa sangat dingin namun segar.
Setelah merendam kaki beberapa saat di bawah air terjun, kami mengeringkan baju di badan di salah satu warung yang banyak berjajar di sekitar lokasi. Saya memesan sate ayam dan teh hangat, kedua teman memesan menu lain. Setelah dirasa cukup, kami memulai perjalanan pulang.
Tangga demi tangga yang menanjak harus kami lalui, tapi tidak perlu khawatir kelelahan karena di beberapa sudut belokan tangga, tersedia gazebo (tempat peristirahatan). Seperti kawasan wisata lain, Air Terjun Grojogan Sewu memiliki sejumlah fasilitas, seperti kolam renang, taman bermain anak, dan kios cinderamata.
Perjalanan wisata alam kali ini terasa berkesan, meski jauh dari keramaian.

Read more...

Di Beranda Waduk Wonorejo yang Damai


Obyek wisata pegunungan Waduk Wonorejo tidak sekali itu saya datangi. Panorama alamnya yang indah membuat saya ingin mengunjunginya di kali kedua. Bersama keluarga, saya berangkat menuju kawasan wisata di daerah Tulungagung itu.



Waduk Wonorejo memiliki fungsi ganda. Selain sebagai tempat wisata, tempat ini befungsi sebagai PLTA. Oleh pemerintah daerah Tulungagung, waduk ini digunakan sebagai penyuplai air bersih dan irigasi.

Dari pengamatan saya, obyek wisata ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti Jets Ski, perahu Kano, Bumi Perkemahan dan Lintas Alam, pemancingan air tawar, sirkuit untuk event Motocross, Resort dan Villa.
Namun bagi saya, memandangi hamparan danau buatan yang berair tenang dengan bebukitan hijau yang mengelilinginya adalah daya tarik utama waduk ini. Keadaan alamnya yang bersih, sejuk, dan teduh membuat pengunjung betah berlama-lama di sana.
Meski tidak terlalu ramai oleh pengunjung, namun area wisata ini tetap nyaman untuk kami menggelar tikar dan sarapan bersama.

Read more...

Selasa, 21 Juli 2009

MONUMEN YOGYA KEMBALI: Saksi Mata Heroisme Pejuang Yogya


Monumen Yogya Kembali atau lekat dengan istilah ‘monjali’ didirikan tidak jauh dari jantung kota Yogyakarta, tepatnya di jalan Ring Road Utara atau di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman. Pada suatu kesempatan, saya dan salah seorang teman dekat bermotor mengunjunginya. Kebetulan jarak Monjali dari tempat tinggal kami cukup dekat, hanya berjarak tempuh 10 menit tanpa hambatan lampu merah. Sengaja kami pilih hari Selasa untuk menghindari keramaian pengunjung sehingga leluasa berkeliling. Tiket masuk relatif murah, 5.000 rupiah untuk dewasa dan 7.500 untuk wisatawan asing.



Memasuki kompleks Monjali, nuansa heroik mulai terasa karena di pasang replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur dan replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat unit, dibawah tembok tinggi menyerupai benteng. Tepat di belakang tembok depan, terdapat dinding lebar dan tinggi memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar. Disini saya sempat membaca beberapa nama sekaligus mengabadikan gambarnya.

Ada sejarah besar yang melatarbelakangi pembangunan monumen ini. Saying sekali dalam hal ini, saya tidak mendapatkan sumber detail peristiwa bersejarah tersebut. Namun secara sederhana dapat digambarkan bahwa Agresi Militer II pada bulan Desember 1948 melakukan pendudukan atas Yogyakarta. Atas gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Letkol Soeharto selaku Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III memimpin serangan bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan berhasil menduduki Yogyakarta selama enam jam. Dan ini merupakan satu kekalahan bagi Belanda.
Pertempuran yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret tersebut yang menjadi bukti bahwa TNI masih memiliki kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Serangan ini pula mengisyaratkan pada dunia bahwa RI masih eksis.
Peristiwa besar yang akhirnya didengar PBB membuat PBB memaksa Indonesia mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN) yang menghasilkan perjanjian Roem Royen tanggal 7 Mei 1949. Perjanjian itu menyepakati beberapa hal, yaitu Belanda harus menarik pasukannya dari Indonesia, dan memulangkan Presiden Soeakrno dan Wakil Presiden Moh. Hatta ke Yogyakarta. Klimaks dari rangkaian peristiwa ini adalah penyerahan kedaulatan kepada RI oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.
29 Juni 1985 diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Yogya Kembali (Monjali) untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut. HB IX meletakkan batu pertama setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau untuk monumen setinggi 31,8 meter. Pembangunannya memakan waktu empat tahun. Hingga pada 6 Juli 1989, Presiden Suharto menandatangani prasasti. Monumen diatas tanah seluas 5,6 hektar ini berbentuk gunung yang melambangkan kesuburan.
Monumen dikelilingi oleh kolam yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum. Museum tersebut memuat kurang lebih 1.000 koleksi baik replika maupun peninggalan asli dari perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI, diantaranya seragam tentara, kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman, perlengkapan perang, foto-foto peristiwa, dan lainnya. Lokasi museum dilengkapi ruang Sidang Utama, yang berfungsi sebagai ruang serbaguna.
Saah satu ruangan yang menarik perhatian kami adalah ruang diorama yang berisi 10 diorama menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.
Lantai teratas disebut tempat hening. Ruangan ini berbentuk lingkaran dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengahnya. Relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik terletak di dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.
Keluar dari bangunan utama, kami duduk-duduk sejenak di taman belakang karena cukup nyaman meski tidak luas. Monumen Yogya Kembali sepertinya dibangun memang khusus untuk keperluan wisata sejarah. Hal ini terlihat dari tidak dibangunnya pusat pertokoan atau tempat bermain selayaknya tempat wisata lain.

Read more...

Tamansari: Surga Dunia Para Raja


Pada satu senja, dalam perjalanan tanpa tujuan, saya bermotor kearah selatan. Melewati perempatan Benteng Vredenburgh, saya terus ke selatan hingga melewati pertigaan sisi kanan alun-alun utara Kraton Yogyakarta, lalu berbelok ke kanan sampai di Pasar burung Ngasem. Memang terlalu percaya diri untuk melakukan perjalanan sore itu tanpa teman, peta, ataupun pengalaman sebelumnya, tapi keinginan untuk terus melaju serasa tak terbendung. Arah selatan pasar Ngasem, terdapat papan nama ‘Tamansari’ di sisi kanan tembok panjang mirip benteng. Saya tertarik untuk masuk dan melihat-lihat tempat yang merupakan salah satu kawasan wisata budaya Kota Yogyakarta ini.



Tamansari merupakan pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya berupa taman kerajaan. Kesultanan Yogyakata memiliki beberapa pesanggrahan lain seperti Warungboto, Manukberi, Ambarbinangun dan Ambarukmo. Pesanggrahan tersebut berfungsi sebagai tempat tetirah, bersemadi, dan beristirahat Sultan dan keluarga. Pada jaman penjajahan, beberapa tempat bersejarah tersebut termasuk Tamansari berfungsi sebagai tempat pertahanan.
Tamansari berlokasi sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Dibangun oleh arsitek berkebangsaan Portugis, sehingga beberapa ornamen bangunannya memiliki corak atau gaya Eropa. Meski demikian, beberapa symbol Jawa dan Islam tetap dipertahankan. Taman ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada akhir abad XVII M.
Beberapa bagian Tamansari beserta fungsi-fungsinya sebagai berikut.

1)Bagian Sakral
Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.
2)Bagian Kolam Pemandian
Bagian ini terdiri dari tiga kolam yang dipisahkan oleh bangunan bertingkat. Dua diantaranya berada disebelah kanan bangunan yang dahulu digunakan oleh para selir dan putra-putri raja. Sedangkan satu kolam terletak disebelah kiri dahulu digunakan oleh raja dan salah satu selir yang terpilih. Bangunan bertingkat yang memisahkan keduanya terdiri dari dua tingkat. Di tingkat dua, terdapat jendela yang dahulu digunakan raja untuk mengamati para selir dan memilih salah satunya untuk mandi bersama beliau di kolam khusus. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang yang khas. Bangunan kolam ini di kelilingi pot-pot besar
3)Bagian Pulau Kenanga
Bagian ini terdiri dari Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gemuling, dan lorong-lorong bawah tanah.
Banguan yang disebut Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti merupakan satu bangunan tinggi yang digunakan sebagai tempat beristirahat, sekaligus sebagai tempat pengintaian karena letaknya agak menjorok ke atas. Dahulu bangunan dikelilingi danau buatan yang difungsikan sebagai tempat bertahan dan mengatur strategi.
Sumur Gemuling berada di bawah tanah yang berbentuk melingkar seperti sebuah sumur. Terdapat beberapa ruangan yang dahulu berfungsi sebagai sebagai tempat sholat. Menurut keterangan pemandu wisata, bangunan ini dibuat melingkar agar suara imam sholat dapat terdengar sebagai pengganti pengeras suara. Ditengah-tengah ruangan terdapat lima buah tangga sebagai simbol lima rukun Islam.
Lorong-lorong konon berfungsi sebagai jalan rahasia yang menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta. Bahkan ada sumber yang menyebutkan bahwa lorong ini tembus ke pantai selatan sekaligus sebagai jalan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Yang pasti, berdasarkan pemandu wisata yang saya sewa, lorong tersebut digunakan sebagai tempat pertahan keluarga kerajaan jika terjadi serangan mendadak.

Read more...

The Blessing Borobudur


Menjelang liburan semester pertama, saya dan tiga orang teman berinisiatif untuk mengunjungi salah satu situs budaya kebanggaan Bangsa Indonesia, Borobudur. Dari terminal Jombor Yogyakarta, kami berangkat menuju Magelang. Setelah 2.5 jam perjalanan, kami sampai dan sepakat menyewa 1 paket perjalanan andong seharga 75.000 dengan tujuan 3 candi sekaligus, yaitu candi Mendut, Pawon, dan Borobudur. Berikut ini
Candi Buddha yang megah ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, tepatnya kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Salah satu hasil penelitian budaya menyebutkan bahwa berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis, pendiri Borobudur adalah raja Samaratungga dari dinasti Syailendra, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, sekitar 824 M. Bangunan raksasa tersebut diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.



dan beduhur dengan arti ’tinggi’

STRUKTUR BOROBUDUR
Candi Borobudur berbentuk 10 tingkat punden berundak dengan tinggi 34,5 meter, terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa Budha utama yang menghadap ke arah barat sebagai puncaknya. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Disebutkan dalam mahzab Budha Mahayana, setiap manusia yang ingin mencapai tingkat tertinggi sebagai Budha harus melalui setiap sepuluh tingkatan Bodhisattva. Maka tak heran jika, Candi Budha yang cantik ini menyimpan kekayaan peradaban manusia yang tersimpan abadi dalam 1460 relief dan 504 stupanya.
Bagian kaki atau dasar Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai nafsu rendah (kama). Sebagian besar bagian ini tertutup oleh tumpukan batu. Terdapat 120 bagian cerita Kammawibhangga.
Pada bagian ini, saya bersama salah seorang teman sempat mengambil gambar
Empat lantai di atasnya dinamakan Rupadhatu. Rupadhatu dilambangkan sebagai dunia yang dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Pada bagian seperti gambar disamping, patung-patung Buddha diletakkan ditempat terbuka yaitu di ceruk-c eruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Pada tiga tingkat di atasnya, Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang yang disebut Arupadhatu. Bagian ini melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan pula alam atas, ketika manusia terbebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, tapi belum mencapai nirwana atau surga. Meski berada di ketinggian dengan cuaca yang panas, kami sempat mengabadikan beberapa sudut bersejarah ini.
Bagian paling atas disebut Arupa yang tempat Budha bersemayam yaitu nirwana. Pada tingkat tertinggi ini digambarkan tiadanya wujud dengan stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa berbentuk polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha. Dalam gambar disamping, kami berempat berfoto tepat disisi stupa teratas dan terbesar sekaligus menandai ketangguhan kami mendaki Borobudur.
Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.
RELIEF
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief yang dapat dibaca sesuai arah jarum jam (mapradaksina). Relief-relief yang berisi beragam cerita, diantaranya cerita jātaka tersebut dibaca mulai sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya. Sayang sekali hanya dua gambar relief diatas saja yang sempat kami abadikan.

TAHAP PEMUGARAN CANDI
Informasi tentang tahap pemugaran candi Borobudur dapat dibaca di papan informasi di pintu keluar kompleks utama candi. Gambar disamping adalah salah satu sisinya.

1814 – Seorang Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, mendengar informasi penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Lalu ia memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan yang berupa bukit bersemak.
1873 – Penerbitan pertama monografi candi.
1900 – Penetapan panitian pemugaran dan perawatan candi Borobudur oleh pemerintahan Hindia Belanda.
1907 – Theodoor van Erp dipercaya memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
1926 – Pemugaran kembali candi Borobudur, namun krisis malaise dan PD II, proses tersebut terhenti pada 1940.
1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans dari Belgia untuk meneliti sebab kerusakan Borobudur.
1963 – Akibat kerusakan paska peristiwa G-30-S, dikeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur oleh pemerintah Indonesia.
1968 – UNESCO memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur dalam konferensi-15 di Perancis.
1971 – Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
1972 – UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat sebagai biaya pemugaran.
10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur yang selesai pada tahun 1984.
21 Januari 1985 – Akibat Serangan oleh kelompok Islam ekstrem pimpinan Habib Husein Ali Alhabsyi, terjadi kerusakan beberapa stupa.
1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Tulisan diatas dirangkai berdasarkan pengamatan langsung dan beberapa situs berikut
Situs web resmi PT. Taman Wisata Candi
UNSECO: Informasi terperinci mengenai Candi Borobudur (format PDF)
Sebuah situs yang didedikasikan untuk Candi Borobudur secara khusus dan candi-candi lain di Jawa Tengah pada umumnya

Gambar-gambar diambil langsung dan adalah milik pribadi.

Read more...

Tentang Blog ini

Blog ini lahir karena motivasi penulis untuk mengabadikan beragam dokumentasi pribadi, baik berupa tulisan maupun gambar. Pengalaman pendidikan penulis di bidang bahasa dan budaya memberikan warna tersendiri dalam pemilihan tema, koleksi tautan, dan topikalisasi tulisan. Selamat Membaca dan Turut Memberi Warna

  © Blogger template Starry by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP